when:15 Nov 09′
where: urbane
Desain sharing adalah sebuah sub acara dari Re-inventing. Dalam acara ini, setiap timnya akan menjelaskan mengenai desain yang sedang dikerjakannya. Hal ini dimaksudkan agar terjadi tukar pikiran yang akan menambah wawasan peserta dalam mendesain, dan juga ilmu baru bagi panitia dan yang mengikuti acara ini .
Adi dan Opi dari ITB dengan gaya bahasa mereka yang informal menandai dimulainya acara ini. Suasana di ruang pertemuan di kantor konsultan Arsitektur Urbane mulai hangat. Para arsitek pun dipersilahkan untuk mempresentasikan karyanya dan berdiskusi dengan para peserta dan hadirin lainnya.
Biro Arsitek Pasagi
Arsitek yang tampil pertama kali adalah Pa Thamrin dari Pasagi. Koridor yang menjadi target desainnya adalah jalan Dago. Analisis yang dilakukan meliputi fungsi bangunan yang ada di koridor ini, yaitu didominasi oleh fungsi komersial. Ketika menjadi komersial, kompleks di jalan Dago ini kehilangan identitasnya.
Solusi yang ditawarkan oleh Pa Thamrin adalah bukan dengan desain, tetapi dengan penerapan kebijakan, karena menurutnya, masalah utama yang ada di lokasi ini bukanlah permasalahan arsitektural, tetapi masalah kebijakan pemerintah. Ia menvisualisasikan jalan Dago sebagai daerah komersial seluruhnya, dengan catatan bahwa fungsi ini hanya satu lapis saja yaitu yang berbatasan langsung dengan jalan Dago, tidak ada fungsi serupa di belakangnya. Selain itu, menurutnya, peraturan bangunan seperti Koefisien Dasar Bangunan dinaikkan, dan pajak yang cukup besar diberlakukan.
Solusi desain yang bisa diterapkan namun bukan fokus pemecah masalah adalah dengan perbaikan jalur pedestrian dan sistem transportasi.
Biro arsitek Tim 5
Tim 5 diwakili oleh Dani Hermawan dan Faisal menganalisis jalan Dalem Kaum. Kondisi jalan ini, menurut mereka, terpengaruh oleh perkembangan alun-alun Masjid Agung Bandung. Masjid Agung mempunyai peran yang cukup signifikan ketika menggelar Sholat Jumat. Di belakang Masjid Agung ini, terdapat kawasan komersial. Selain itu, dalam perkembangan masjid ini, sebagaian jalan dewi sartika yang awalnya menutupi masjid dengan alun-alunnya pun ditutup. Seiring dengan padatnya dan sibuknya kawasan komersial jalan Otto Iskandar Dinata (Otista), jalan Dalem Kaum pun menjadi jalan support yang menyokong jalan Otista, misalnya sebagai lahan parkir.
Potensi yang terdapat di koridor Dalem Kaum antara lain adalah heterogenitas penjual dan berlapisnya mata pencaharian, sebagai area parkir, adanya PKL, minimnya public furniture, ramainya signage, daerah bersejarah,compact furniture yang dimiliki oleh pedagang, dan sebagai koridor yang mengumpulkan (collecting corridor).
Tim 5 telah sampai pada tahap analisis, namun belum memutuskan konsep apa yang akan ditawarkan untuk koridor ini.
Arsitekturina
“Cihampelas adalah koridor yang identik dengan action figure raksasa, mobil, toko dan kq5 (pedagang kaki lima)”, begitulah tutur Egoh, seorang perwakilan dari biro arsitektur Arsitekturina. Tim dari arsitekturina menawarkan solusi awal berupa perbaikan pedestrian, parkir, dan penyediaan street furniture. Namun, hal ini hanyalah akan membuat kepadatan yang lebih parah.
Kemudian, Arsitekturina memcoba memberi konsep lain dengan menjadikan jalan Cihampelas sebagsi taman denganbicycle path, public furniture, dan pohon-pohon. Koridor ini akan menjadi Zero Carbon Area. Fungsinya sebagai jalan mobil akan digantikan oleh car traveller yang dinaikkan dari tanah, dan area parkir dibuat tersusun vertikal. Parkir yang tersusun vertikal akan dibuat besar dan monumental hingga bisa juga sebagai Eco Gate ketika para pendatang memasuki Bandung melewati Jalan Layang Pasupati.
Car traveller yang memfasilitasi para pengguna mobil ini akan memerlukan banyak energi, oleh karena itu akan ada instalasi pembangkit listrik tenaga angin yang merupakan energi yang dapat diperbaharui. Tetapi akan dianalisis lebih jauh karena konsep efisiensi energi terpatahkan oleh alat yang sangat mengkonsumsi energy ini.
Tahap pengembangan selanjutnya adalah penerapan Eco Culture. Disini, pengguna jalan akan benar-benar membudayakan hemat energi dan prinsip keberlanjutan lainnya. Alat yang semulanya adalah car traveller, akan berubah menjadi human traveller. Gedung parkir mobil pun akan berubah menjadi bike dispenser.
Tim ITENAS
Jalan Cihampelas juga merupakan objek yang dikaji oleh tim desain dari ITENAS. Kondisi jalan yang padat, jalur pedestrian yang tidak nyaman, dan keberadaan pedagang kaki lima menjadi perhatian tim ini.
Analisis fungsi bangunan (land use) yang tim ini lakukan, mempermudah pengelompokan tempat-tempat untuk di sediakan titik-titik simpul.
Solusi yang diutarakan oleh kelompok ini adalah dengan membuat tiga perbedaan ketinggian. Ketinggian paling rendah diisi oleh mobil, ketinggian kedua diisi oleh trotoar yang selevel dengan bangunan, berfungsi sebagai transit dari mobil menuju lapis ketinggian yang tertinggi yaitu untuk para pedestrian. Lapis tertinggi ini, yang diberi nama Skybridge, dilengkapi tangga pada beberapa titik tertentu yang dianggap mewakili suatu kelompok bangunan. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi konsentrasi manusia.
Tim ITB
PVJ adalah penyumbang kemacetan yang sangat dominan di kawasan Jalan Sukajadi. Pusat perbelanjaan Parisj Van Java memiliki ego yang tinggi karena tidak memikirkan atau menanggulangi kemacetan yang ditimbulkan oleh aktivitas dan keberadaannya. Mobil yang menuju tempat ini dan akses masuk mall ini membingungkan. Ditambah lagi dengan sistem transportasi yang kacau.
Solusi yang ingin dicoba oleh tim ini adalah perlakuan sirkulasi di node (titik) PVJ. Tak hanya nyaman ketika berada di dalam PVJ sendiri, tetapi juga menciptakan kenyamanan di lingkungan sekitarnya. Penambahan taman dan pembuatan trotoar yang nyaman dan skywalk adalah langkah-langkah yang ingin dilakukan tim ini dalam mengatasi masalah di koridor ini.





wooooooowww…
press release perdana nie..
mantaff..!
lanjutkan ya utk acara2 lainnya!
AYO EKSISKAN BAFFEST-MU !